Headlines News :
Home » » PENILAIAN ACUAN NORMA DAN PENILAIAN ACUAN KREATIF

PENILAIAN ACUAN NORMA DAN PENILAIAN ACUAN KREATIF

Written By Budiyono on Rabu, 08 Juni 2011 | Rabu, Juni 08, 2011


1.      STANDAR PENILAIAN
Salah satu isi dari standar penilaian adalah metode yang digunakan dalam menilai hasil belajar siswa. Secara umum ada dua metoda/ acuan yang digunakan untuk melihat hasil belajar siswa yaitu penilaian acuan norma dan penilaian acuan patokan
Apabila kita melakukan pengukuran atau penilaian berarti kita membandingkan . Dalam membandingkan berarti membutuhkan pembanding. Dalam dunia pendidikan ada dua pendekatan yang digunakan sebagai pembanding, yaitu penilaian acuan norma atau PAN (norm referenced evaluation) dan penilaian acuan patokan.atau PAP (criterion refrenced evaluation)
a.       PENILAIAN ACUAN NORMA (PAN)
PAN    ialah     penilaian     yang     membandingkan     hasil     belajar mahasiswa terhadap hasil dalam kelompoknya. Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan   tugas   belajar   yang  besar.   Tes   acuan   norma  dimaksudkan   untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Tes acuan kriteria Perbedaan   lain   yang   mendasar   antara   pendekatan   acuan   norma   dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan.

Penialian beracuan kelompok ini berdasarkan dari pada asumsi sebagai berikut:
1.   Bahwa setiap populasi peserta didik yang sifatnya heterogen, akan selalu didapati            kelompok,                baik,             sedang,               dan    keleompok    kurang,    yang distribusinya membentuk kurva normal dan kurva simetrik. Asumsi pertama ini mengandung makna bahawa pada setiap kegiatan pengukuran dan penilaian hasil belejar peserta didik, sebagian besar dari peserta didik tersebut nilai-nilai belajar terkonsentrasi atau memusat disekitar nilai pertengahan (nilai rata-rata), dan hanya sebagian kecil saja yang nilainya
sangat tinggi atau sangat rendah.

2.   Bahwa  tujuan  evaluasi  hasil  belajar  adalah  untuk  menentukan  posisi relatif daripada peserta tes dalam hal yang sedang dievaluasi itu, yaitu apakah seorang peserta tes posisi relatifnya berada di atas, di  tengah, ataukah di bawah.
Pada pendekatan acuan norma standar performan yang digunakan bersifat       relatif.  Artinya               tingkat   performan              seorang        siswa       ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya; Tinggi rendahnya performan seorang siswa sangat bergantung pada kondisi performan kelompoknya. Dengan kata lain standar pengukuran yang digunakan ialah norma kelompok. Salah satu keuntungan dari standar relatif ini adalah penempatan sekor (performan) siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti. Kekurangan dari penggunaan standar relatif diantaranya adalah:

(1) dianggap tidak adil, karena bagi mereka yang berada di kelas yang memiliki sekor yang tinggi, harus berusaha mendapatkan sekor yang lebih  tinggi  untuk  mendapatkan  nilai  A  atau  B.  Situasi  seperti  ini menjadi baik bagi motivasi beberapa siswa.
(2)  standar relatif membuat terjadinya persaingan yang kurang sehat diantara para siswa, karena pada saat seorang atau sekelompok siswa mendapat nilai     A         akan  mengurangi     kesempatan           pada           yang               lain                 untuk mendapatkannya.
Contoh :
Sekelompok mahasiswa terdiri dari 40 orang dalam satu ujian mendapat nilai mentah sebagai berikut:
55 43 39 38 37 35 34 32
52 43 40 37 36 35 34 30
49 43 40 37 36 35 34 28
48 42 40 37 35 34 33 22
46 39 38 37 36 34 32 21
Penyebaran skor tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
No
Skor Mentah
Jumlah Mahasiswa
Jika     55     diberi

nilai 10 maka
1
55
1
10,0
2
52
1
9,5
3
49
1
9,0
4
48
1
8,7
5
46
1
8,4
6
43
3
7,8
7
42
1
7,6
8
40
3
7,3
9
39
2
7,1
10
38
2
6,9
11
37
5
6,7
12
36
4
6,5
13
35
3
6,4
14
34
4
6,2
15
33
2
6,0
16
32
2
5,8
17
30
1
5,5
18
28
1
5,1
19
22
1
4,0
20
21
1
3,8

Jumlah Mahasiswa
40


Jika skor mentah yang paling tinggi (55) diberi nilai 10 maka nilai untuk :
52 adalah (52/55) x 10 = 9,5
49 adalah (49/55) x 10 = 9,0 dan seterusnya
Bila jumlah pesertanya ratusan, maka untuk memberi nilainya menggunakan statistik sederhana untuk menentukan besarnya skor rata-rata kelompok dan simpangan baku kelompok (mean dan standard deviation) sehingga akan terjadi penyebaran kemampuan menurut kurva normal.Menurut distribusi kurva normal, sekelompok mahasiswa yang memiliki skor di atas rata-rata 60 dalam kelompok itu adalah:
60 sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 34,13%
(60 + 1 S.B.) sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 13,59%
60 + 2 S.B.) sampai dengan (60 + 3 S.B.) adalah 2,14%
Begitu juga dengan mahasiswa yang memiliki skor 60 ke bawah, adalah:
60 sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 34,13%
(60 – 1 S.B.) sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 13,59%
(60 – 2 S.B.) sampai dengan (60 – 3 S.B.) adalah 2,14%
Dengan kata lain mahasiswa yang mendapat skor antara (+1 S.B. s.d. -1S.B.) adalah 68,26%, yang mendapat skor (+2 S.B. s.d. -2 S.B.) adalah 95,44%.
Dengan demikian dapat dibuat tabel konversi skor mentah ke dalam nilai

1-10.
Skor Mentah
Nilai 1- 10
Skor rata-rata +2,25 S.B.


Skor rata-rata +1,75 S.B. Skor rata-rata +1,25 S.B. Skor rata-rata +0,75 S.B. Skor rata-rata +0,25 S.B. Skor rata-rata -0,25 S.B. Skor rata-rata -0,75 S.B. Skor rata-rata -1,25 S.B. Skor rata-rata -1,75 S.B.
Skor rata-rata -2,25 S.B.
10


9


8


7


6


5


4


3


2


1


b.      Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Penilaian Acuan Kriteria (PAK)

Apabila dalam penentuan nilai hasil tes belajar itu digunakan acuan kriterium (menggunakan PAP), maka hal ini mengandung arti bahwa nilai yang akan diberikan kepada siswa harus didasarkan kepada standar mutlak (standar absolute), artinya pemberian nilai pada siswa itu dilaksanakan dengan
jalan membandingkan antara skor mentah hasil tes yang dimiliki oleh masing- masing individu siswa, dengan skor maksimum ideal yang mungkin dapat dicapai oleh siswa, kalau saja seluruh soal tes dapat dijawab dengan benar.
Karena  itu  maka  pada  penentuan  nilai  yang  mengacu  kepada kriterium atau pada patokan ini, tinggi rendahnya atau besar kecilnya nilai yang diberikan kepada masing-masing individu siswa, mutlak ditentukan oleh besar kecil atau tinggi rendahnya skor yang dapat dicapai oleh masing-masing siswa yang bersangkutan. Itu lah sebabnya mengapa penentuan nlai dengan mengacu  kepada  kriterium  sering  disebut  sebagai  penentuan  nilai  secara mutlak (absolute) atau penentuan nilai secara individual.
Disamping itu karena penetuan nilai seorang siswa dilakukan denagan jalan membandingkan skor mentah hasil tes dengan skor maksimum idealnya, maka penentuan nilai yang beracuan pada kriterium ini sering juga dikenal dengan istilah penentuan nilai secara ideal, atau penentuan nilai secara teoritik, atau penentuan nialai secara das sollen.
Adapun rumus yang dapat digunakan adalah:


Nilai = skor mentah / skor maksimum ideal x 100


Selanjutnya nilai-nilai  yang berhasil dicapai masing-masing siswa ditransfer  atau  diterjemahkan  menjadi  nilai  huruf  dengan  patokan-patokan yang telah disepakati masing-masing lembaga/institute/universitas. Misalanya:

Nilai 85 keatas = A Nilai 75 – 84 = B Nilai 65 – 74 = C Nilai 55 – 64 = D Nilai dibawah 55 = E
Penilaian beracuan patokan, sangat baik atau sangat cocok diterapkan pada tes-tes formatif, diamana guru ingin mengetahui sudah sampai sejauh manakah peserta didiknya telah terbentuk, setelah mereka mengalami
pengajaran  dengan  jangka waktu  tertentu.  Dengan  menggunakan  PAP  ini, guru  dapat  mengetahui  beberapa  orang  siswa  yang  tingkat  penguasaanya tinggi, sedang maupun  rendah, maka guru  tersebut akan dapat melakukan upaya-upaya  yang  dipandang  perlu  agar  tujuan  pengajaran  dapat  tercapai secara optimal.

Namun   PAP   ini   jangan   digunakan   dalam   pengolahan   atau penentuan nilai hasil tes sumatif, seperti pada ulangan umum dalam rangka mengisi  raport,  atau  pada  ujian  akhir  dalam  rangka  mengisi  nilai  ijazah maupun penentuan kelulusan seperti yang terjadi pada ujian akhir nasional yang banyak menuai kontroversi, karena penilaian acuan patoakan ini dalam penerapannya sama sekali tidak mempertimbangkan kemampuan kelompok (rata-rata   kelas)   sehingga   dikatakan   kurang   manusiawi,   maka   dengan penerapan penilaian patokan dalan tes sumatif bias menyebabkan sebagian besar siswa dinyatakan tidak naik kelas.
Kelemahan lain adalah bahwa apabila butir-butr soal yang dikeluarkan  terlalu sukar, maka siswa betapapun pandainya akan memperoleh nilai-nilai rendah, sedengkan jika butir-butir soal terlalu yang rendah, maka siswa betapa bodohnyapun akan memperoleh nilai-nilai yang tinggi.
Dalam    hubungan    ini     maka    penilaian     beracuan    kriterium menggunakan standar mutlak itu sebaiknya diterapkan pada tes hasil belajar itu mengalami uji coba decara berulang kali dan telah memberikan bukti nyata bahwa tes tersebut sudah memliki sifat handal, baik dilihat dari segi n realiabitasnya.
c.       Perbedaan antara Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan

Patokan (PAP)
Secara singkat, perbedaan antara PAN dan PAP dapat dilihat pada table berikut:

Penilaian acuan norma (PAN)
Penilaian acuan patokan (PAP)
·         PAN digunakan untuk menentukan status setiap peserta terhadap kemampuan peserta lain.
·         Perbedaan individual mendapat penekanan dalam PA N
·         Pengembang PAN berupaya untuk menghasilkan tes -tes yang menghasilkan keragaman yang cukup berarti
·         PAN mengukur kompetensi umum peserta didik.
·         PAN menghasilkan penguasaan peserta didik secara umum dalam bidang pembelajaran tertentu.
·         PAN memiliki kecendrungan untuk menggunakan rentangantingkat peng uasaan seseorangterhadap kelompoknya, mulaidari yang sangat istimewasampai dengan yang mengalami kesulitanan serius
·         PAN memberikan skor yang menggambarkan penguasaan kelompok
·         Sukar menentukan dan memberi bantuan materi yang belum dikuasai peserta didik
·         P A P d i g u n a k a n u n t u k m e n e n t u k a n s t a t u s s e t i a p p e s e r t a t e r h a d a p t u j u a n ya n g d i r e n c a n a k a n
·         Tidak memperdulikan perbedaan individual
·         K e r a g a m a n b u k a n m e n j a d i f a k t o r p e n e n t u d a l a m P A P ,w a l a u p u n p a d a a k h i r n ya t e s -t e s a k a n m e m b e d a k a n p e s e r t a ya n g t e l a h m e n g u a s a i d a n b e l u m m e n g u a s a i
·         PAP secara khusus menekankan  pada ranah (kawasan ) tertentu yang harus dipelajari peserta didik
·         Butir-butir soal ditulis berdasarkan pengelompokkan, setiap kelompok terpusat pada tujuan tertentu
·         PAP memberikan indikator yang lebih me yakinkan bahwa tujuan telah tercapai
·         PAP memberikan penjelasan

tentang penguasaan kelompok terhadap satu atau sejumlah tujuan
·         Mudah menentukan materi

yang belum dikuasai peserta didik dan mudah memberikan bantuan untuk menguasainya


































































Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. BUDIYONO ASARI - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template